8.28.2011

Pemimpin Teladan

Ali bin Abi Thalib merupakan salah seorang khalifah yang rajin mengirim pesan-pesan tertulis kepada para bawahannya. Dalam surat kepada Gubernur Al Asthar di Kairo, Amirul Mukminin menulis, ”Pemimpin itu harus bisa melihat dengan mata rakyat, harus mengerti bahasa rakyat, dan merasakan perasaan rakyat. Memajukan kemakmuran rakyat adalah tugas setiap pemimpin.”

Nasihat tersebut menjelaskan betapa seorang pemimpin memikul tanggung jawab yang tidak ringan di hadapan umat dan di hadapan Tuhan. Dalam sejarah, tidak sulit mencari pemimpin di kala keadaan serba menguntungkan serta fasilitas yang lengkap. Namun, sulit dan mahal untuk mendapatkan pemimpin sejati yang tabah bertahan dan rela menderita bersama rakyatnya dalam masa sulit, jauh dari fasilitas yang diinginkan.

Prof Dr Ahmad Syalaby dalam buku Masyarakat Islam (1961) melukiskan persaudaraan dan kebersamaan yang terbina dalam kehidupan umat Islam di zaman Khalifah al Rasyidin. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, umat Islam di sekitar Madinah ditimpa bencana kelaparan yang telah menyebabkan wabah penyakit dan kematian. Kelaparan dan penderitaan rakyat itu dirasakan oleh Umar sebagai penderitaan bagi dirinya. Karena itu, beliau bersumpah tidak akan mengecap daging dan minyak samin. ”Bagaimana saya dapat mementingkan keadaan rakyat, kalau saya sendiri tiada merasakan apa yang mereka derita,” begitu kata Khalifah Umar yang amat berkesan pada waktu itu.

Kali lain, Umar bin Khathab pernah berkata, ”Kalau negara makmur, biar saya yang terakhir menikmatinya, tapi kalau negara dalam kesulitan biar saya yang pertama kali merasakannya.” Sampai seorang sahabat pernah berkata, bila Allah tak segera mengakhiri bencana itu, maka Ali adalah orang pertama yang mati kelaparan.

Teladan kepemimpinan Umar bin Khathab ditemukan kembali pada sosok Umar bin Abdul Aziz, di masa pemerintahan Bani Umayyah tahun 717-720 M. Istri Umar bin Abdul Aziz, ketika menjawab pertanyaan orang-orang yang datang bertakziah atas wafatnya pemimpin teladan ini, menceritakan, ”Demi Allah, perhatiannya kepada kepentingan rakyat lebih besar daripada perhatiannya kepada kepentingan dirinya sendiri. Dia telah serahkan raga dan jiwanya bagi kepentingan rakyat.”

Rasulullah bersabda, ”Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban (di hadapan Allah) tentang kepemimpinannya.” Maka, betapa tak terpujinya para pemimpin yang hanya berorientasi melanggengkan kekuasaan dan melupakan penderitaan rakyatnya.

8.19.2011

"40 Keajaiban Ramadhan"

Selama Ramadhan, Imam Syafi’i menghatamkan Al-Quran enam puluh kali, dua kali dalam semalam di dalam shalat. Inilah ‘rahasia 40 Keajaiban Ramadhan’

Selama Ramadhan, Allah memerintahkan seluruh penghuni surga berhias. Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang keempat, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan surga-Nya, Ia berfirman: “Bersiap-siaplah, dan hiasilah dirimu untuk para hamba-Ku, sehingga mereka bisa segera beristirahat dari kelelahan (hidup di) dunia menuju negeri-Ku dan kemulyaan-Ku…” [HR. Baihaqi]. Itulah sisi menarik keajaiban bulan Ramadhan yang tak banyak orang tahu.

1. Ramadhan jalan menuju ketaqwaan

Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan atas kaum sebelum kalian, agar kalian bertaqwa”. (Al Baqarah: 183).

Ayat di atas menerangkan bahwa puasa adalah sebab yang bisa mengantarkan pelakunya menuju ketaqwaan, karena puasa mampu meredam syahwat. Ini sesuai dengan salah satu penafsiran yang disebutkan Imam Al Qurthubi, yang berpatokan kepada hadits riwayat Imam Ahmad yang menyebutkan bahwa puasa adalah perisai.

2. Ramadhan bulan mujahadah

Para ulama’ salaf adalah suri tauladan bagi umat, mujahadah mereka dalam mengisi bulan Ramadhan amat perlu dicontoh. Seperti Imam Asyafi’i, dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al-Quran dua kali dalam semalam, dan ini dikerjakan di dalam shalat, sehingga dalam bulan Ramadhan beliau menghatamkan Al-Quran enam puluh kali dalam sebulan. Imam Abu Hanifah juga menghatamkan Al-Quran dua kali dalam sehari selama Ramadhan.

3. Puasa Ramadhan menumbuhkan sifat amanah

Wahbah Zuhaili dalam bukunya Al Fiqh Al Islami berpendapat bahwa puasa mengajarkan rasa amanat dan muraqabah di hadapan Allah Ta’ala, baik dengan amalan yang nampak maupun yang tersembunyi. Maka tidak ada yang mengawasi seseorang yang berpuasa agar menghindari hal-hal yang dilarang dalam berpuasa kecuali Allah Ta’ala

4. Puasa Ramadhan melatih kedisiplinan

Puasa juga melatih kedisplinan, Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa seorang yang berpuasa harus makan dan minum dalam waktu yang terbatas. Bahkan dalam berbuka puasapun harus disegerakan.

5. Puasa Ramadhan menumbuhkan rasa solidaritas sesama muslim

Wahbah Zuhali juga menjelaskan bahwa puasa Ramadhan menumbuhkan rasa solidaritas di antara sesama muslim. Pada bulan ini semua umat Islam, dari timur hingga barat diwajibkan untuk menjalankan puasa. Mereka berpuasa dan berbuka dalam waktu yang sama, dikarenakan mereka memiliki Rabb yang satu.

Seorang yang merasa lapar dan dahaga akhirnya juga bisa ikut merasakan kesengsaraan saudara-saudaranya yang kekurangan atau tertimpa bencana. Sehingga tumbuh perasaan kasih sayang terhadap umat Islam yang lain.

6. Puasa Ramadhan melatih kesabaran

Bulan Ramadhan adalah bulan puasa di mana pada siang hari kita diperintahkan meninggalkan makanan yang asalnya halal, terlebih lagi yang haram. Begitu pula di saat ada seseorang mengganggu kita. Rasulullah Saw. bersabda: “Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata ‘Sesungguhnya aku sedang puasa.” (HR. Bukhari)

7. Puasa Ramadhan menyehatkan

Rasulullah bersabda: ”Berpuasalah, maka kamu akan sehat” (HR. Ibnu Sunni), ada yang menyatakan bahwa hadits ini dhoif, akan tetapi ada pula yang menyatakan bahwa derajat hadits ini sampai dengan tingkat hasan (lihat, Fiqh Al Islami wa Adilatuh, hal 1619).

Tapi makna matan hadist bisa tetap diterima, karena puasa memang menyehatkan. Al Harits bin Kaldah, tabib Arab yang pernah mengabdi kepada Rasulullah Saw. juga pernah menyatakan:”Lambung adalah tempat tinggal penyakit dan sedikit makanan adalah obatnya”.

8. Lailatul Qadar adalah hadiah dari Allah untuk umat ini

Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatha’, dia telah mendengar dari seorang ahlul ilmi tsiqah yang telah mengatakan: “Sesungguhnya telah diperlihatkan usia-usia umat sebelumnya kepada Rasulullah Saw., atau apa yang telah Allah kehendaki dari hal itu, dan sepertinya usia umat beliau tidak mampu menyamai amalan yang telah dicapai oleh umat-umat sebelumnya, maka Allah memberi beliau Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan.” (HR. Malik).

9. Ramadhan bulan ampunan

Bulan Ramadhan adalah bulan ampunan, Rasulullah Saw. bersabda: “Dan siapa yang berpuasa Ramadhan dengan didasari keimanan dan pengharapan ridha Allah, diampunkan untuknya dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari)



10. Siapa yang dilihat Allah, maka ia terbebas dari adzab-Nya

Dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah Saw. bersabda: ”Pada bulan Ramadhan umatku dianugerahi lima perkara yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku. Yang pertama, sesungguhnya jika Allah melihat mereka di awal malam dari bulan Ramadhan, dan barang siapa yang telah dilihat Allah maka Ia tidak akan mengadzabnya selamanya…” (HR. Baihaqi).

11. Bau mulut orang berpuasa lebih harum dari misk di hadapan Allah

Rasulullah Saw. bersabda:”…Yang kedua, sesungguhnya bau mulut mereka ketika sore hari lebih harum di hadapan Allah daripada bau misk…” (HR. Baihaqi).

12. Di Bulan Ramadhan para malaikat meminta ampunan untuk umat ini

Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang ketiga, sesungguhnya para malaikat meminta ampunan untuk mereka siang dan malam…” (HR. Baihaqi).

13. Di bulan Ramadhan sorga berbenah diri

Rasulullah Saw. bersabda:”…Adapun yang keempat, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan surga-Nya, Ia berfirman: “Bersiap-siaplah, dan hiasilah dirimu untuk para hamba-Ku, sehingga mereka bisa segera beristirahat dari kelelahan (hidup di) dunia menuju negeri-Ku dan kemulyaan-Ku…” (HR. Baihaqi).

14. Di malam akhir Ramadhan Allah mengampuni umat ini

Rasulullah Saw. bersabda: ”…Adapun yang kelima, sesungguhnya jika tiba malam terakhir Ramadhan Allah memberi ampun kepada mereka semua. Lalu bertanyalah seorang lelaki dari sebuah kaum: ”Apakah itu lailatul qadar? Ia bersabda:” Bukan, apakah kau tidak mengetahui perihal orang-orang yang bekerja, jika mereka selesai melakukan pekerjaan maka imbalannya akan dipenuhi. (HR. Baihaqi)

15. Pintu sorga dibuka, pintu neraka ditutup, syaitan dibelenggu

Rasulullah Saw. Bersabda: “Jika Ramadhan tiba dibukalah pintu sorga dan ditutuplah pintu neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu. (HR. Bukhari).

Dalam Syarah Shahih Muslim, Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa makna hadits di atas bisa bermakna haqiqi, yaitu pintu sorga dibuka, pintu neraka ditutup serta syaitan dibelenggu secara haqiqi, sebagai tanda datangnya Ramadhan sekaligus pemulyaan terhadapnya. Tapi bisa juga bermakna majaz yang mengisyaratkan besarnya pahala dan ampunan di bulan itu, sehingga syaitan seperti terbelenggu.

16. Pahala syuhada bagi yang melakukan kewajiban dan menghidupkan Ramadhan

Datanglah seorang laki-laki kepada Nabi Saw. Dan mengatakan: ”Wahai Rasulullah, tahukah anda jika saya telah bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya anda adalah utusan Allah, aku juga telah melakukan shalat lima waktu, juga telah menunaikan zakat, serta aku telah berpuasa Ramadhan dan menghidupkannya, maka termasuk golongan siapakah saya? Rasulullah Saw. Bersabda: “Termasuk dari orang-orang yang sidiq dan syuhada’”. (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

17. Pahala amalan bulan Ramadhan berlipat ganda

Dari Salman ra., bahwasannya Rasulullah Saw. berkhutbah di hari terakhir bulan Sya’ban: ”Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan agung yang penuh berkah. Bulan yang terdapat di dalamnya sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang Allah jadikan puasa di dalamnya sebagai kewajiban, dan qiyamul lail sebagai hal yang disunnahkan, barang siapa mendekatkan diri di dalamnya dengan perbuat kebajikan, maka ia seperti mengerjakan kewajiban selainnya, dan barang siapa mengerjakan kewajiban di dalamnya, maka ia seperti mengerjakan tujuh puluh kewajiban selainnya…” (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)



18. Seluruh hari dalam Ramadhan memiliki keutamaan

Rasulullah Saw. bersabda: “…Dia adalah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, serta paripurnanya adalah pembebasan dari neraka…” (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya)

19. Keutamaan memberi minum orang yang berpuasa

Allah akan memberi minum kelak di akhirat Rasulullah Saw. bersabda: “Dan barang siapa memberi minuman orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya dari telaga minuman yang tidak menghauskan hingga ia masuk ke dalam sorga”. (HR. Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya).

20. Sebaik-baik sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan

Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan.” (HR.Tirmidzi).

21. Doa mustajab di bulan Ramadhan

Diriwatkan dari Abu Umamah Ra, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:”…Dan untuk setiap muslim di setiap hari dan petang (dalam bulan Ramadhan) doa yang mustajab (HR. Bazar).

Rasulullah juga bersabda:”Tiga yang tidak tertolak doanya, orang yang berpuasa hingga berbuka, imam adil, dan doa orang yang terdhalimi”. (HR. Tirmidzi)

22. Pahala umrah Ramadhan sama dengan haji

Rasulullah Saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar:”Jika datang Ramadhan maka lakukanlah umrah, karena susungguhnya umrah dalam bulan itu setaraf dengan haji.” (HR. An Nasa’i).

23. Pahala i’tikaf di bulan Ramadhan sama dengan pahala 2 haji dan umrah

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Husain Ra. menyatakan, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:”Barang siapa menjalankan i’tikaf selama sepuluh hari di bulan Ramadhan maka amalan itu seperti dua haji dan umrah (HR. Baihaqi)

24. Dalam Ramadhan terdapat malam yang istimewa (Lailatul Qadar)

Allah berfirman:”Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan”. (Al Qadr: 3).

Tentang ayat ini, Wahbah Zuhaili menjelaskan bahwa menghidupkan Ramadhan dan melakukan amalan di dalamnya lebih baik daripada menjalankan amalan dalam seribu bulan tanpa Ramadhan.

25. Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan

Allah Ta’ala berfirman: “Bulan Ramadhan yang diturunkan di dalamnya Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu, serta pemisah antara haq dan batil”. (Al Baqarah: 185)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa Allah Ta’ala menyanjung bulan Ramadhan atas bulan-bulan yang lain, yaitu dengan memilihnya sebagai bulan dimana Al-Quran diturunkan di dalamnya.

26. Kitab-kitab suci diturunkan pada bulan Ramadhan

Rasulullah Saw. bersabda:”Shuhuf Ibrahim turun pada awal malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat turun pada hari ke enam bulan Ramadhan dan Injil pada hari ke tiga belas dari Ramadhan…” (HR. Ahmad).

27. Rasulullah mendapat wahyu pertama di bulan Ramadhan

Ketika Rasululah Saw. mendekati umur 40 tahun beliau selalu berpikir dan merenung serta berkeinginan kuat untuk mengasingkan diri (uzlah), akhirnya dengan mempersiapkan bekal makanan dan minuman beliau menuju gua Hira yang terdapat pada gunung Rahmah sebagai tempat beruzlah, yang berjarak dua mil dari kota Mekah. Uzlah ini dilakukan tiga tahun sebelum masa kerasulan. Tatkala datang Ramadhan pada tahun ketiga dari masa uzlah, turun kepada beliau Malaikat Jibril mewahyukan surat Al Alaq yang merupakan surat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Saw.

28. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan

Perang Badar adalah pemisah antara yang haq dan yang batil, dan kaum muslimin sebagai simbol tauhid dan kemulyaan, meraih kemenangan atas kaum musyrikin sebagai simbol kekifiran dan kebodohan.

Peperangan terjadi pada hari Jum’at, 27 Ramadhan, tahun kedua setelah hijrah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan benar-benar Allah telah menolong kalian di Badar sedangkan kalian dalam keadaan terhina, maka takutlah kalian kepada Allah, semoga kalian bersyukur”. (Ali Imran: 123).

Ibnu Abbas mengatakan:”Saat itu hari Jum’at, 27 Ramadhan, dan saat itu juga terbunuh Fir’aun umat, Abu Jahal, musuh terbesar umat Islam.

29. Mekah dikuasai pada bulan Ramadhan

Fathul Mekah adalah peristiwa besar, Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”. (Al Fath:1).

Sebagian mufasirin berpendapat bahwa yang dimaksud kemenangan di sini adalah peristiwa Fathul Mekah, walau ada sebagian ulama’ yang menafsirkannya sebagai perjanjian Hudaibiya dan penaklukan negeri Rum.

Peristiwa itu terjadi pada hari, tanggal 20 atau 21 Ramadhan, tahun ke delapan hijriyah. Saat itulah semua berhala yang berada di sekitar Ka’bah dihancurkan.

30. Islam menyebar di Yaman pada bulan Ramadhan

Tahun ke sepuluh hijriyah pada bulan Ramadhan Rasulullah Saw. menunjuk Ali bin Abi Thalib guna menjadi pemimpin sejumlah pasukan untuk pergi ke penduduk Yaman dengan membawa surat yang berisi ajakan untuk memeluk Islam. [bersambung..]

Sumber: Hidayatullah

Asa & Cinta

Oleh : Tatik Triyanita (XI IA 6/32) 


Gema nuansa Illahi yang mengalun indah, menyerukan perintah Sang Pencipta untuk menegakkan kewajiban semua umat-Nya. Adzan Subuh yang selalu mengawali hari-hariku, menegurku agar selalu ingat untuk memanjatkan segenap rasa syukur kepada-Nya, Ar-Rahman Yang Maha Pengasih, atas nikmat-Nya aku masih dapat melihat dan menikmati indahnya dunia. Terdengar pelan suara ketukan pintu kamarku.
“Sita, bangun Nduk. Shalat Subuh.” Suara pelan wanita yang tak asing lagi, Ibu.”
“Iya bu, Sita bangun.”
Berat rasanya melangkahkan kaki ini, setelah semalam suntuk aku menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan Bapak Ibu guru. Tapi aku selalu ingat pesan Ibu, “Yakinlah, kesuksesan tidak datang pada orang-orang yang enggan berusaha. Kau seorang pelajar, sudah menjadi kewajibanmu ngangsu kawruh. Jangan suka mengeluh dan lakukan semuanya dengan ikhlas karena Allah Ta’ala.”
“Baik, semangat!” seruku dalam hati. Aku mulai melangkahkan kaki untuk segera mengambil air wudlu dan segera menuju langgar, masjid kecil di dekat rumahku.


“Sita, sarapan dulu. Nanti berangkat sekalian antarkan Ibu ke warungnya Bu Endang soalnya Bapak mau langsung berangkat katanya.” Kata Ibu dengan jelas dari dapur belakang.
“Iya bu, nanti Sita antar.”
Ya, namaku Masita Az Zahra, nama yang sederhana tetapi penuh makna bagiku. Cukup beralasan orang tuaku mmberikan nama itu padaku. Mereka berharap kelak aku bisa seperti Maysitah yang begitu istiqamah, seorang wanita yang tetap kukuh mengakui Tuhan hanyalah Allah SWT. Dan Az Zahra sendiri mereka tambahkan dengan makna cahaya. Mungkin mereka berharap aku bisa menjadi wanita yang istiqamah, laksana cahaya yang terus menyinari hingga tiba masanya nanti semua kembali kepada-Nya.
Aku juga bukan dilahirkan dalam keluarga berkalangan priyayi, keluargaku sederhana. Bapakku bekerja di sebuah kantor distributor surat kabar yang cukup terkemuka. Meskipun penghasilannya tak seberapa, kami yakin bahwa selagi kami masih dapat makan hari ini dan esok, kami sudah termasuk orang yang beruntung. Hal itu yang selalu ditanamkan padaku, anak tunggalnya.
Segera aku melangkahkan kaki ke dapur dan menyantap sarapan yang sudah Ibu siapkan.
“Sita, bapak berangkat dulu.” Pamit Bapak padaku.
“Iya, ati-ati Pak.” Ucapku di depan pintu sambil mencium tangannya.
“Assalamu’alaikum.” Tak pernah lupa Bapak ucapkan kata salam itu.
“Wa’alaikumsalam.” Balasku sambil melihat bayangan Bapak yang terus menjauh menembus kabut dengan sepeda motornya.
“Bu, besok Senin Sita udah mulai ulangan kenaikan kelas lho. Doain Sita ya.” Kataku sambil menyantap nasi goreng kesukaanku.
“Ya nduk, pasti Ibu sama bapak mendoakan yang terbaik. Ayo dihabiskan dulu makannya.”


Sampai di sekolah, seperti yang sudah ku kira hari ini ada tugas matematika. Ribut bukan main, kelas penuh sesak dan semuanya panik, khawatir kalau sampai tugas itu tidak selesai. Maklum, Pak Budi yang terkenal disiplin itu pasti tak segan untuk memberi hukuman pada siswanya yang tidak mengerjakan tugas.
“Sita, halaman 75 yang uraian. Cepet, keburu Pak Budi dateng.” suara setengah tersengal-sengal Deni yang tak lain meminta jawaban pekerjaanku.
“Sebentar. Semalem ngapain aja kamu? Tugas belum kelar kayak gitu?” candaku yang terkesan sombong.
“Ah, banyak ngomong. Buruan! Mau sombong entar aja, gawat nih!” desaknya.
“Hehe, bercanda bos! Nih bukunya.” sahut Sita sambil menyodorkan bukunya.
“Nah, gitu dong. Dari tadi kek!” katanya girang.


Bel istirahat berdering. Aku segera menuju keluar kelas, sekedar menghirup udara setelah dua jam bertegang ria dengan Pak Budi mempelajari fungsi turunan yang cukup menguras otak dan dianggap anak-anak sebagai materi yang sulit.
“Sita, ke kantin yuk?” tanya Uni teman sebangkuku.
“Ah, enggak. Lagi pengiritan. Hehe..”candaku dengan senyuman.
Teman-temanku Uni, Rio, Dini, Ratih dan Febri menemaniku duduk di bangku depan kelas. Seperti biasa, banyak hal yang selalu kami bicarakan mulai dari gosip infotainment yang sedang hangat, tentang pelajaran, bahkan seringkali berdebat sok bijak tentang masalah yang ada di antara kami.
“Masya Allah, tetangga baruku yang rumahnya di pengkolan itu, cakepnyaaa..” kata Ratih.
“Halah, enggak mutu banget ngomongin tetanggamu. Eh, ngomong-ngomong nih masa kemarin si Rini udah jadian sama Bagus. Padahal pedekatenya belum ada seminggu.” ucap Dini serius.
“Emang, kemaren aku yang bantuin Bagus jadi tim suksesnya.” kata Rio bangga.
Selalu seperti ini yang menjadi topik pembicaraan. Terkadang aku merasa jengah dan lebih memilih menjadi pendengar setia untuk topik yang satu ini. Tiba-tiba Uni menarik tanganku dan masuk ke dalam kelas.
“Duduk. Aku mau ngomong.” kata Uni dengan mimik serius.
“Iya, ngomong aja. Serius amat neng?” balasku santai.
“Gimana kabarnya Ahsan? Katanya kamu lagi deket sama dia?” tegas Uni.
Mendengar nama Ahsan aku jadi speechless! Aku paham maksud Uni.
“Udah lah, mukanya enggak usah merah gitu. Aku siap jadi tim suksesmu! Gimana?”
Bel masuk menyelamatkanku dari cecaran pertanyaan-pertanyaan Uni yang semakin tak jelas arahnya.
“Udah bel tuh!” kataku mengalihkan pembicaraan.


“Sita!” Terdengar suara teriakan yang tidak asing lagi.
“Eh, Ahsan.. Pulang?” kata-kata darurat yang keluar dari mulutku. Ya, aku rasa tidak begitu buruk aku tanyakan demikian karena setting pertemuan yang tidak disengaja kali ini di Parkiran sekolah.
“Iya nih. Mau bareng?” tanya Ahsan.
“Makasih, aku lagi bawa motor nih. Duluan ya.. Assalamu’alaikum.” jawabku dengan jantung yang berpacu cepat.
“Sip. Ati-ati ya. Wa’alaikumsalam.”


Malam ini, ada banyak tugas yang harus ku kerjakan, tapi pikiranku tak jelas kemana. Lagi-lagi aku mengingat Ahsan. Pemuda yang aktif di berbagai organisasi di sekolah ini sudah memikat hatiku. Ya, karena dia memiliki banyak kelebihan, baik di bidang akademik maupun non-akademik, juda didukung tingkah lakunya yang santun dan baik.
“Ya Allah, Engkau Maha Pemberi Petunjuk. Salahkah hamba-Mu yang begitu kecil ini merasakan nikmat cinta yang Kau beri?”
Aku tak dapat memungkiri, akhir-akhir ini aku memang cukup dekat dengan Ahsan, mungkin begitu juga dengannya. Seperti remaja 17 tahun sebayaku. Masalah seperti ini tak asing lagi. Aku semakin tak tenang. Aku segera menuju ruang tamu. Aku ingin mengungkapkan semuanya di pangkuan Ibu. Ibu yang sedang duduk di ruang tamu menonton TV terlihat masih sabar menanti Bapak pulang.
“Ibu..” bisikku ke telinganya.
“Ya, nduk. Kenapa?”
“Sita mau ngomong sama Ibu.”
Aku menceritakan semuanya pada Ibu, wanita yang tidak pernah lelah mendengar keluh kesahku dan selalu memberi wejangan-wejangan yang bermanfaat.
“Masita Az Zahra, putri Ibu. Ibu ndak menyalahkan kamu. Tuhan menciptakan segala sesuatunya dengan cinta.”
“Atau Sita lebih baik seperti Rabi’ah Al-‘Adawiyah yang seumur hidupnya hanya untuk mencintai Allah semata? Hidupnya, apapun yang ia kerjakan semua hanya untuk Allah?”
“Bukan begitu, Ibu tak menyalahkan kamu kalau kamu menyukai seseorang. Ibu tau kamu pasti bisa memilih yang terbaik. Ahsan juga pasti memahami kondisimu.”
“Baiklah bu, Sita lebih memilih Ahsan tetap menjadi teman terbaik Sita. Biarkan waktu yang jadi jawaban, kalau memang Allah menggariskan bersama, kelak di pelataran surga. Amin.. Sita pengin lebih konsen belajar. Makasih bu, Sita jadi lega.”
“Nah gitu dong, baru anak Ibu,” pungkasnya.
Aku berniat mengirim sms ke Ahsan, tetapi tiba-tiba handphoneku berdering.
New Messages
From : Ahsan
Y, kelak di Pelataran Surga. 
Sms itu entah mengapa terasa sangat kebetulan. Langsung kutekan tombol reply dan mulai mengetik balasan smsnya.


To : Ahsan
Sip, Boss! 

Aku merasa lebih nyaman. Berteman baik lebih menyenangkan. Aku masih punya sejuta angan yang harus aku wujudkan. Tak ada banyak waktu untuk merasakan sakitnya “jatuh” cinta, atau mirisnya “patah” hati yang biasa remaja lain rasakan. Saatnya mulai meraih mimpi-mimpi dengan berkarya dan yakin suatu saat kesuksesan dapat kita raih seperti pernyataan yang diungkapkan Donny Dhirgantoro, novelis favoritku
“Keep our dreams alive... and we will survive.”
--
- The end –



8.14.2011

MABIT 1432 H

Tahun ajaran baru telah berlalu sekitar satu setengah bulan lamanya. Setelah MOS (Masa Orientasi Siswa) dan baksos untuk para siswa baru SMA Negeri 2 Purwokerto berakhir, tibalah masanya sekitar setengah bulan kemudian acara MABIT dilaksanakan oleh ROHIS kita tercinta.

Pada 6 dan 7 Agustus 2011 yang bertepatan dengan 6 dan 7 Ramadhan 1432 H, ROHIS SMA Negeri 2 mengadakan MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa) di sekolah bagi siswa-siswi SMA Negeri 2 Purwokerto yang beragama Islam. Acara yang diselenggarakan selama satu malam satu hari ini benar-benar menyenangkan, apalagi ditambah dengan keberadaan kafe Ramadhan oleh kelas XII IPA 2 SMA Negeri 2 Purwokerto yang menyediakan berbagai macam ta'jilan.

Acara dimulai pada hari Sabtu sore, 6 Agustus 2011 sekitar pukul 16.30 WIB. Setelah acara pembukaan kemudian dilanjutkan dengan Buka Puasa bersama (ta'jil), sholat maghrib berjamaah, makan, sholat isya berjamaah dan sholat tarawih. Setelah rangkaian acara ibadah selesai kemudian dilanjutkan dengan Religius Speech oleh Bpk. K.H. Sulaiman dan Perkenalan ROHIS oleh Akhi Mokhamad Ali Z.A. selaku Ketua ROHIS.

Tidak berhenti disitu, acara malampun dilaksanakan dengan dilakukannya sholat malam oleh para siswa kelas X untuk kemudian makan sahur. Guna menunggu waktu sholat subuh merekapun mengikuti siraman rohani oleh Drs.H. Dawud Buang dan Tadarus Al-Qur'an.

Pagi harinya acara dilanjutkan dengan acara santai berupa jalan-jalan di area Purwokerto, Nonton film bareng dan Family time (sharing kelompok). Setelah seluruh acara sukses terselenggara kemudian acara ditutup sekitar pukul 10.00 WIB.

8.05.2011

Bulletin At-Tahrim Edisi Liburan II

Alhamdulillah, bulletin At-Tahrim akhirnya terbit lagi. Di bulletin ini, ada artikel tentang bagaimana cara memanfaatkan waktu liburan, juga ada hadits-hadits tentang memanfaatkan waktu luang. Selain itu, di bulletin ini Kaki Silam (Teka-teki Silang Islam) pertama mulai dicantumkan. Semoga bermanfaat dan berikut adalah gambar bulletinnya.


8.02.2011

OUR 1st DASA RODA

Alhamdulillah....
Syukron buat semua pihak yang telah turut menyukseskan acara 1st DASA RODA 1432 H.
Setelah melalui tahapan yang panjang dari mulai pengumpulan naskah lomba essai islami,orator muslim, cerpen islami dan cipta & baca puisi islami hingga akhirnya sampai di acara puncak yaitu "Islamic Forum" kini kami merasa sangat bersyukur kepada ALLAH SWT atas Ridho-Nya. DASA RODA atau Budaya Bahasa Rohis Smadha yang pertama kalinya diselenggarakan dengan tema "Nafas Islam dalam Bahasa" ini merupakan acara yang diselenggarakan dalam rangka Isra Mi'raj. Tujuannya yaitu untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan siswa dalam berdakwah lewat berbagai media khususnya melalui seni tulis menulis dan lisan.Acara puncak DASA RODA yang dihadiri oleh siswa-siswi dan guru SMA N 2 Purwokerto berlangsung meriah. Selain dikarenakan pembicara yang berkompeten yaitu Bpk. Drs. Rodin Nurrohman. Suksesnya acara ini juga ditunjang oleh antusiasme yang tinggi dari siswa-siswi Smadha khususnya saat pelaksanaan sesi tanya jawab. Selain itu, dari acara ini juga diperoleh para juara lomba yang diharapkan akan terus berdakwah melalui bakat yang dimilikinya, yaitu:
#Lomba Essai Islami:
-Juara 1: Atsmarina Widyadari (XII IPA 6)
-juara 2: Nur Laela Anggraeni (XI IPA 2)
#Lomba Cerpen Islami:
-Juara 1: Puji Setyaningsih (XI IPA 5)
-Juara 2: Tatik Trianita (XII IPA 6)
#Lomba Cipta dan Baca Puisi Islami:
-Juara 1: Danar Intan P. (XII IPA 6)
-Juara 2: Hanan Hanifa (XI IPA 3)
#Orator Muslim:
-Juara 1: Dimas Gilang R. (XII IPA 7)
-Juara 2: Evi Triana (XII IPA 4.

Besar harapan kami supaya DASA RODA selanjutnya bisa lebih sukses dari tahun ini dan lebih banyak memberikan manfaat bagi seluruh warga SMADHA..Aamiin...