12.13.2011

Media Dakwah Islam

Saat ini kita terjebak dalam era yang sangat membingungkan. Zaman yang saya namai sebagai “Era si Genius Dungu”. Well, seperti yang kita tau sekarang semuanya serba canggih. Apa saja yang kita butuhkan dapat terpenuhi, terakses dengan cepat. Siapa yang bisa memungkiri? Kecuali anda hidup di pelosok pedesaan, tidak mengikuti IPTEK, dan tidak-mau-tau-apapun. Okey, mari sebut ini sebagai jenius (mengingat perkembangan yang cukup cepat dari kereta kuda menjadi kereta disel). Dan dungunya, bagaimana mungkin kita lupa bahwa itu semua dari Allah? Kekuasaan Allah? Kita terlalu sibuk dan asyik pada “milik”-Nya. Terlena oleh logika, sehingga Zat tidak tampak yang selalu mengasihi kita siang malam terabaikan, terlupakan. Bahkan tidak lagi dipercaya. Nauzubillah…

Dan pada zaman yang sudah terbolak-balik ini, dakwah bukanlah perkara mudah. Saat ini, banyak generasi muda yang percaya-gak percaya dengan apa yang disampaikan oleh para ulama. Lalu mereka bisa tahu berbagai hukum dan aturan-aturan Islam dari mana? Salah satu teman saya menceletuk dengan santai saat saya mendiskusikan hal ini dengannya, “Al-Quran dan Hadis.” Ah, jawaban naif. Mana mungkin anak zaman sekarang mau buka al-Quran dan hadis? Tapi kabar baik dari sikap acuh tak acuh ini, mereka jadi tidak mudah terjerumus dalam berbagai aliran yang tidak bertanggung jawab. Yah, setidaknya ada sisi positifnya. Sedikiiitt..

Lalu bagaimana cara dakwah yang pas pada era ketika telinga ditulikan saat mendengar ceramah atau kajian agama? Saya akan menjawab dengan mantap, dengan cara visual. Generasi kita butuh contoh. Generasi kita butuh teladan, hal yang bisa ditiru, dibuktikan secara real, bukan hanya kalimat menggebu-gebu penuh dalil. Bukan maksud saya mengatakan bahwa saya tidak setuju atau kontra dengan metode pengajian dan sebagainya. Tapi khususnya untuk para remaja, mereka terlebih dahulu membutuhkan teladan sehingga saat mereka mendengarkan kajian atau ceramah, mereka tidak beranggapan itu nonsense, naif, atau “Dimulai dari lo sendiri deh, ustadz.”

Selain itu, menurut hasil pengamatan saya, generasi kita adalah generasi yang mudah bosan. Na’asnya bosan di sini terutama dalam hal yang berbau positif. Misalnya bosan jika disuruh sholat tepat waktu, bosan jika disuruh baca al-Quran (tapi jika disodori novel Twilight setebal bantal langsung dilahap, dan gak bosan-bosan), bosan disuruh belajar, bahkan bosan sekolah. Jika sekolah yang menyenangkan (mendapat ilmu baru setiap harinya, bertemu teman-teman, diberi uang saku, bisa bertemu si dia, dan sebagainya) saja generasi kita bisa mengalami kejenuhan, apalagi mendengarkan ceramah dimana mereka pasif? Hanya duduk dan mendengarkan? Melihat seseorang tampil di depan umum bergelagat seperti pendakwah saja sudah membuat kaum remaja bosan. Sinyal-sinyal, ‘Hei, aku mau berdakwah nih!’ tidak butuh waktu lama untuk membuat remaja ingin lari. Kita butuh sesuatu yang baru untuk dakwah, sesuatu yang menyenangkan. Misalnya bagi pendakwah harus pintar-pintar mengawali dakwahnya supaya tidak terkesan membosankan dari awal juga menarik perhatian audiens. Contoh saja Pak Solikhin yang pintar membuat suara-suara unik dan senda gurau tapi tanpa mengesampingkan tujuan dakwahnya. Atau gunakan metode membiarkan mereka sendiri yang mengolah bahan mentah yang kita berikan. Seperti mengajak menonton film yang bernafaskan Islam seperti My Name is Khan, atau film bergender pendidikan seperti 3 Idiot, atau melalui novel-novel. Dari situ nanti, kita membantu mereka mengolah info atau bahan yang mereka saksikan atau dapatkan. Sehingga, generasi kita tidak merasa jenuh, dan dakwah juga lebih mudah.// oleh Atsmarina Widyadhari

No comments:

Post a Comment